Tiga orang perempuan muda jalan menuju parkiran, di sebelah utara fakultas. Biasanya, di jam-jam setelah istirahat salat, mereka bertiga akan duduk di salah satu sudut kantin dekat parkiran ini, sambil memesan kopi lalu dilanjutkan dengan diskusi yang lebih banyak tertawanya daripada seriusnya. Mungkin karena berasal dari tiga prodi berbeda, hanya waktu-waktu itu mereka bisa bertemu dan bercengkrama.

 

Namun tidak kali ini. Mereka hanya berdiri saja di dekat parkiran itu. Yang pertama, berjilbab maroon dengan pakaian terlalu casual untuk seorang pengajar, penikmat kopi, terlihat paling cuek diantara teman-teman sejawatnya. Ia terlihat bersandar di dinding. Yang kedua, seperti biasa, ia menggunakan jilbab berwarna lembut, hari ini berjilbab coklat susu dan biasanya terlihat anggun dengan pakaian yang sangat girlynya. Penikmat kopi, seperti si maroon, cuek sekilas dilihat, tapi begitu kenal, ramainya gak ketulungan. Ia terlihat meletakkan sikunya di bahu si jilbab maroon. Sedang yang satunya, cantik, terlihat lebih dewasa dari dua lainnya, biasanya ada gendongannya bayi di bahunya. Pakaiannya? Ia yang paling sederhana, rok hitam bermotif bintang, tunik selutut garis-garis, dan jilbab senada baju. Dipahami, buru-buru ke kampus tadi pagi, mungkin. Ketiganya memiliki kesamaan, selalu membawa ransel yang terlihat berat di bahu.

Kuperhatikan mereka dengan saksama, tiga orang yang selama ini kerap terlihat akrab bersama mahasiswa mereka. Karena tergolong dosen muda, mungkin cara berkomunikasinya lebih “nyambung” dengan mahasiswa kebanyakan.

Yang berjilbab maroon terlihat sedang mencari-cari sesuatu di smartphone nya, lalu menunjukkan ke kedua temannya. Sesekali terlihat raut muka yang sedang berfikir, agak mengkerut, lalu seolah bahasan itu dilempar ke dalam majelis mini untuk didiskusikan bersama. Tak jarang setelah salah satu dari mereka berkomentar, ketiganya lalu terpingkal-pingkal di pojokan itu. Seolah tak peduli orang disekitar memperhatikan. Sesekali dicobanya menahan tawa, sampai terduduk di depan tangga, sedang yang lainnya tetap tertawa seperti biasa. Siapapun yang melihat kelakuan mereka bertiga sore ini, pastilah ikut tersenyum. Ada saja sesuatu dari mereka bertiga yang menarik perhatian, lalu tersenyum kita dibuatnya.

Pernah sekalinya aku duduk di meja sebelah mereka, saat mereka sedang terlalu asik dengan cerita-cerita yang lucu sepertinya. Seorang bapak-bapak menghampiri, menanyakan mereka dari prodi mana. Masing-masing menjawab  apa adanya, sampai akhirnya si bapak tanya, semester berapa mereka, karena terlihat seperti anak semester akhir yang sudah mulai stress dengan skripsi. Dan mereka kembali tertawa.

Aku berjalan mendekati mereka. Kuucapkan salam, yang disambut serentak oleh ketiganya, dengan suara yang lebih lembut dari tawa mereka tadi tentunya. Aku menahan tawa melihat perubahan sikap mereka.

“Begitu disapa langsung anggun ya kitanya”, kata ibu jilbab coklat susu, yang langsung disambut tawa oleh dua lainnya.

 

Tagged on:                 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *