Awalnya karena ingin makan dan ngumpul di tempat berbeda, tapi waktunya ngumpul bukan jumat malam, sehingga banyak dari mereka meolak ajakan ini. Ntah sejak kapan jadwal ngumpul yang biasanya hampir tiap malam itu berubah jadi hanya malam minggu, itupun berkurang jumlah pasukan dengan kebiasaan baru salah seorang teman untuk nonton live music di tempat berbeda. Jadilah, malam minggu sedikit berbeda dari kebiasaan. Well, lagi…tidak semua dari mereka muncul di akhir pekan itu.

 

Sibuk dengan kegiatan lain. Punya circle baru. Ngetrip atau kerja di daerah lain. Alasan yang sama, diucapkan orang berbeda, dengan cara berbeda

“Bunch of stories and a cup of coffee” berubah jadi “bunch of stories (from heart) and a cup of meatball and iced tea”. Malam ini. Tumben.

Ke-tumben-an yang dirasa ada kejanggalan sehingga satu persatu berusaha hadir dalam ke-tumben-an tadi. Ke-tumben-an lainnya adalah “aku jemput yak”, seolah ada paksaan dibalik ajakan tadi. Maka dihati langsung tersirat, ada sesuatu ini. Terlepas kemudian firasat-firasat tadi benar adanya, atau tidak

Ntah karena ke-introvert-an sebagian besar orang-orang ini, kerap kali menemukan tempat nongkrong rada sepian, tempat itu dijadikan pelarian ketika bahasan-bahasan privacy mulai ingin dibicarakan, ketika masalah-masalah ingin dicari penyelesaian. Hingga tak jarang muncul kalimat, “ jangan kenalkan mereka ( orang-orang di luar circle) pada tempat itu” . 😁

Tempat berbeda, menikmati suasana yang ditawarkan, menunggu hingga satu gelas teh dingin habis, segelas es kosong datang, satu bahasan mencoba dibuka perlahan, dilemparkan jadi topik pembicaraan. Satu bersuara, dua tiga lainnya mendengarkan. Satu bertanya, satu dua lainnya menjawab, satu lainnya masih mendengerkan, saksama. Ada yang ingin didengarkan, ada yang ingin diberi masukan. Ada yang bisa menjadi pendengar budiman, ada yang bisa memberi masukan, ada pula yang merespon dengan tepukan pelan di tangan, bahu, atau pun melempar senyuman tanda maklum.

Jam 10 malam, bahasan belum terbahas tuntas, si teman mulai was-was, pagar rumah dikunci ibu Kos. Selamatlah. Dua tiga lainnya mencoba mengalihkan suasana, sesekali terlambat, tak masalah harusnya. Ia tetap harus bergerak, pulang.

Di penghujung pertemuan kemudian ia berkata, “ seandainya bisa ngomong seperti sekarang bukan di waktu malam, akan lebih panjang waktu kita”

Tagged on:                 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *