Semua butuh proses” – terdengar seperti sebuah alasan yang dibuat-buat (atau tidak) ketika kita dimintai sesuatu, ketika kita ditanyai tentang kesiapan akan suatu hal.

Semua dalam hidup ini adalah proses, dimana setiap prosesnya bis saling bersinggungan, saling bersilangan satu sama lain. Bisa jadi saling berketergantungan sehingga selesainya suatu proses A tergantung akan kesiapan suatu proses B. Terkadang seperti itu, walaupun tidak selalu.

Ketika seseorang berfikir untuk melanjutkan studi ke jenjang berikutnya, ia mempersiapkan banyak hal. Berkas, biaya untuk penyiapan berkas, sedang ketika biaya yang dibutuhkan tidak ada di saku, artinya ia harus bekerja beberapa waktu sambil terus mempersiapkan hal-hal yang dibutuhkan.

Atau di lain waktu, seseorang butuh liburan, “kabur” dari kesibukan yang tak kunjung mereda, tapi biaya yang ada sudah dialokasikan untuk kebutuhan lainnya. Ingin rasanya mengambil sebagian saja. Atau malah sebaliknya, tidak mengambil barang sedikitpun, lalu bekerja lagi, mencari usaha lainnya agar biaya untuk liburan jauh dari kediaman bisa terlaksana.

Semua hal, melewati satu dua proses. 

Seseorang yang gagal dalam ujian masuk perguruan tinggi, belajar lagi agar dapat diterima di kampus tujuan di masa depan

Seseorang yang gagal menuju pernikahan, belajar menerima kenyataan, cibiran, sindiran, rasa sedih tak terkira, sampai akhirnya dapat menanggapi segala hal itu dengan lebih terbuka, lapang dada.

Seseorang lainnya, bersitegang dengan seorang kenalan lama karena suatu hal, butuh waktu yang terkadang cukup lama untuk bisa saling memaafkan, menerima kesalahan satu sama lain, terbuka dengan permasalahan dan berbagai masukan.

Semuanya melalui satu dua proses

Seperti saat ini, sambil menunggu entah siapa, seorang laki-laki muda duduk di pojok kantin, sambil sesekali mengecek smartphonenya. Siapapun yang melihatnya pasti paham, ada rasa kesal karena harus menunggu lama, menunggu siapapun itu yang sudah membuat janji dengannya. Rasa kesal berubah ketika yang ditunggu datang, terlihat di matanya, ketika yang ditunggu akhirnya menghampiri.

Semuanya melalui proses yang tidak ketahui seperti apa proses yang harus mereka lalui.

Mereka berfikir berkali-kali, mempertimbangkan banyak hal berulang kali, mengambil keputusan yang terkadang tak mudah untuk diterima hati. Bukan tidak mungkin kemudian menyesal dengan keputusan yang telah diambil karena rasa takut yang tak dapat digambarkan dengan kata-kata. Bukan tidak mungkin di suatu waktu, berharap waktu bisa diulang kembali, keputusan yang sudah diambil ditarik kembali, pertimbangan-pertimbangan tadi kembali terfikirkan. Kemudian berbagai kalimat seandainya bermunculan.

Seandainya..Seandainya…Seandainya..

Pastinya,  semua, butuh proses.

 

Tagged on:                 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *