Di kepala, aku memanggil mereka dengan sebutan “penjemput pahala”. Akan kuceritakan sedikit, bagaimana sebutan itu bisa tersemat pada diri mereka

Yang pertama, seorang laki-laki usia sekitar 35 tahun. Pekerjaan sehari-hari? Usaha ini itu, alias semuanya dikerjain, sedang yang utama adalah berwiraswasta dengan penghasilan pas-pasan. Suatu kali, ia mengajakku bertemu dengan keluarganya yang terbilang masih kerabat dekat, di sebuah warung kopi lokal di kota ini. Dia menyapa salah seorang tukang parkir di sana, mengajaknya ngopi bersama walaupun kemudian ditolak karena sedang bekerja katanya. Well, yang seperti ini, alhamdulillah sudah semakin terlihat kan. Di saat peminta-peminta datang, orang lebih memlilih untuk mengajaknya makan bersama dibandingkan dengan memberikan mereka uang seadanya. Yang terakhir juga bukan solusi yang baik, saking banyaknya peminta-peminta di kota ini.

Ketika hendak pulang, ia menyerahkan selembar 50 ribuan kepada si tukang parkir. Bapak tukang parkir sibuk menghitung kembalian dan mengumpulkan lembaran-lembaran uang dengan nominal lebih rendah. Laki-laki ini hanya menepuk punggung si bapak, lalu langsung pergi dengan kendaraannya.

Tak selesai di situ, suatu kali aku melihatnya di pasar tradisional, lagi-lagi aku melihat pemandangan yang sama. Tersenyum diri melihatnya. Adem sekali perasaan melihat pemandangan seperti itu

Yang kedua, tentang seorang perempuan paruh baya. Sehari-harinya bekerja kantoran, pergi pagi pulang sore menjelang maghrib. Setiap pagi, dengan motornya, dia akan mengajak anak-anak kecil yang akan ke sekolah dengan berjalan kaki untuk ikut serta dengannya, atau jika terlihat mahasiswa yang berjalan ke arah halte, tak segan ia mengajaknya berangkat bersama. Begitu juga ketika  pulang kantor. Saat badan sudah super letih, ia tetap menyapa siapapun yang sedang berjalan ke arah yang sama dengan rumahnya. Jika mereka bersedia, diantarkannya orang tersebut sampai ke jalan utama, jika tak bersedia, ya gpp juga.

Orang ketiga, baru saja terlihat di depan mata. Aku sedang duduk di sebuah cafe, judulnya kerja dan dikejar-kejar DL. Seorang laki-laki yang cukup terkenal di kota ini, petinggi sebuah partai yang fotonya terpampang di banyak sudut kota, duduk di meja seberang. Kuperhatikan sekilas, familiar. Kuperhatikan lagi, benar, si bapak itu. Terlihat berbeda karena menggunakan pakaian yang terlalu casual untuk seorang seperti beliau. Sebelum keluar, seorang pelayan membukakan pintu untuknya. Kulihat ia bercakap-cakap degan si pelayan beberapa menit. Kemudian tangan kirinya menepuk bahu si pelayan, sedang tangan kanannya menyodorkan sesuatu. Uang menurutku. Semacam tips kalau di luar. Bisa dikatakan ini pertama kali aku melihat ada orang yang memberikan tips di kota ini.

Dari dua yang pertama, dalam beberapa kali pertemuan dengan mereka, ada kebiasaan-kebiasaan yang terlihat sederhana tapi menarik sekali. Keduanya selalu membawa sapu tangan di dalam tas nya. Mengurangi penggunaan tissue katanya *glek. Orang kedua, setiap ke pantai selalu membantu kresek, untuk sampah-sampah yang ia lihat selama di pantai. Duh..

Di lain waktu, seseorang lainnya pernah berkata, lakukan amal-amal baik setiap harinya yang bentuknya tidak hanya dalam bentuk infaq dana, memberi tumpangan, mengutip sampah di pantai, mengucapkan terima kasih kepada pelayan yang mengantarkan makanan, merapikan meja setelah makan agar pelayan tak perlu waktu lama untuk membersihkan meja,  dan hal-hal yang kerap dianggap sepele.

“Jemput pahala !”, katanya menutup kalimat-kalimat petuahnya.

 

 

Tagged on:                 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *