Deep conversation with right people, are priceless

“Ada jadwal mahasiswa konsul gak??”, sebuah suara yang lama tak terdengar bertanya.

“Aku samperin ya. Kantin sebelah aja”, katanya lagi, langsung kuiyakan . Seperti biasa, bertanya, kemudian memutuskan tanpa harus menunggu jawaban yang ditanyai.  Toh dia cukup tau jadwal ku semester ini. 

Tak perlu menunggu lama, dia sudah duduk dengan antengnya di meja yang bersebalahan langsung dengan ruang kerjaku. 

Beberapa kenalan cukup terganggu karena aku kerap menerima mahasiswa konsul di jam-jam aku bertemu mereka, di kampus. Maafkeun, tapi terkadang cuma di waktu-waktu itu aku bisa ngobrol bebas dengan mahasiswa bimbingan. Kepala juga lagi ringan-ringannya tiap ngopi, jadi yaaa..begitulah. Belakangan, setiap ada yang ingin bertemu, pertanyaan serupa kerap muncul. walaupun pada faktanya, yaaa mau gimana lagi. Selama jam kerja mahasiswa tetap diprioritaskan. 

“Ketemunya dua bulan sekali ya” , kubuka pembicaraan dengannya, yang disambutnya dengan cengiran khasnya. 

“Ada kabar, katanya kamu butuh temen ngomong., makanya aku bela-belain pulang beberapa hari lebih cepat . Kenapa kenapa? ada masalah apa sampe sebegitunya kakdos?”, tanyanya.

Dua gelas kopi diantarkan ke meja kami, pertemuan dadakan kita selalu ditemani satu dua gelas kopi. 

Tak butuh waktu lama untuk bisa bercerita dengannya. Dia cukup lihai untuk memancing aku, atau teman-teman kami lainnya untuk menceritakan sesuatu. Tentunya hal-hal pribadi hanya diceritakan ketika berdua, atau bertiga saja, dengan yang terdekat di antara kami. Tanpa harus diceritakan detail pun, biasanya dia langsung tau harus ngasih solusi apa. Kaliat-kalimatnya yang biasanya jahil berubah nan bijak tiap ngeliat yang didepannya mulai curhat *hahaha. 

“Kalau gak nyaman, ga usah, gak perlu maksa sebegitunya. Prioritas kamu apa? udah jelas kan? so? why bother. Ketika sesuatu justru udah di level mengganggu, cut it out. Gak bisa ngelakuin sendiri?  gak ada yang salah minta bantuan orang. I know you need help”, raut mukanya cukup tegas ketika mengatakan serangkaian kata itu. 

Kuangguk-anggukan kepala, mencoba menamkan kalimat-kalimatnya di kepala. 

“Kapan netap di Indo lagi?” , tanyaku mencoba mengalihkan fokus pembicaraan

“Belum tau, bisa akhir tahun, bisa juga tahun depan. Kenapa?”, tanyanya

“buat penelitian bareng yuk, minimal jadi data analistnya aku lah” , jawabku, ngasal, tapi gak sepenuhnya ngasal. Penelitian bareng dengan expert di bidang yang berbeda denganku, kebayang akan seseru apa, tapi menjadikan dia sebagai data analist untuk penelitian yang terbilang kecil levelnya, sedikit keterlaluan permintaanku. 

“Bayaranku mahal loh” , jawabnya, dengan gaya sok sombongnya. Aku tertawa, diapun sama. 

“Rabu siang free? aku samperin lagi ntar, sambilan ke bandara. Atau, ketemu akhir bulan aja di kota B, eh tapi kamu belum tentu jadi berangkat ya” , katanya lagi, panjang, di ujung pertemuan.  

“Inshallah, rabu aja dulu ya. Daaah” , kulambaikan tangan, pengganti salaman. 

30 menit yang terlalu singkat. tapi pertemuan kita hampir selalu seperti ini, terakhir mungkin setahun yang lalu kita bisa ngobrol – dan punya waktu luang untuk ngobrol sampe berjam-jam. Sebelum kesibukan kita, di kota berbeda, memaksa pertemuan-pertemuan mingguan berubah jadi bulanan, dua-bulanan, atau kapan ada waktu luang diantara kami.

Deep conversation with right people, are priceless

Yap. Always.  Dan hati, langsung lega setelah pertemuan itu.

Tagged on:                 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *