Ada suatu masa ketika seseorang itu kehabisan energi, kelelahan, atau bisa jadi hanya sekedar ingin sendiri. Itulah kondisi yang diri alami, kemarin.

Dan ketika akhirnya memilih pulang di hari yang berbeda dengan rombongan, adalah karena keinginan untuk sendiri, tanpa perlu berbicara ini itu dengan siapapun, berjalan seorang diri dari pesawat, menuju ruang tunggu, ke restoran terdekat, membeli kopi instan di toko yang menjual makanan khas daerah, kemudian menikmati kopi itu sambil mendengarkan alunan musik dari handphone, sambil tetap memperhatikan jadwal keberangkatan yang setiap saat bisa berubah waktunya. Sesekali melemparkan pandangan ke arah luar yang dipenuhi dengan pesawat siap berangkat, atau hanya terparkir dengan cantiknya di sana. Sesekali mengarahkan pandangan ke arah langit, seolah mencari persetujuan bahwa yang saya lakukan saat itu benar-benar mencari kedamaian diri, seorang diri.

 

Ketika akhirnya jadwal keberangkatan ditetapkan, barang-barang bawaan diangkat, kaki melangkah menuju tong sampah terdekat untuk membuang kaleng kopi instan, lalu mengambil boarding pass sambil terus berjalan menuju antrian. Tak perlu berbicara, hanya menunjukkan selembar kertas dan dijawab ” dari pintu D” , sambil memperhatikan tangan petugas bandara menunjukkan arah pintu dimaksud. Diri berjalan, terus, sesekali kembali melemparkan pandangan ke arah luar bandara, yang lebih terang cahayanya.

Duduk, bersandar pada kursi pesawat yang kaku menopang diri, menikmati bacaan walaupun lebih sering melihat gumpalan awan di ketinggian ribuan kaki. Telinga setiap saat mendengarkan kalimat-kalimat pramugari. Kalimat di akhir perjalanan, oleh sang pramugari yang seolah mnegatakan, ” selamat datang, selamat kembali pulang”.

Perjalan pulang, sendirian, solo. Begitu diri ini memaknainya. Tenang, damai, gemuruh di kepala mereda hingga akhir perjalanan. Syukur tiada tara.

 

Tagged on:                 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *