Menulis seolah menjadi pekerjaan tambahan yang membebani, belakangan ini. Setiap pagi, meniatkan diri untuk menulis hari ini. Sepanjang hari, ada saja yang bisa dijadikan tulisan, banyak sekali cerita yang kemudian bisa dituangkan kedalam berbaris-baris kalimat dalam note yang diinstall khusus untuk memudahkan diri untuk selalu menulis.

Lalu malam tiba, pekerjaan sebagian besar telah diselesaikan untuk hari ini, sebagian lainnya ditinggalkan di ruang kerja. Gak perlulah semuanya dibawa serta setelah jam 5.

Laptop dinyalakan. Mungkin, ini masih mungkin, akan ada yang bisa dituliskan. Ah iya, hari ini banyak cerita seru yang bisa dituliskan, bisa diabadikan dalam bentuk tulisan. Lalu ide kepala seolah berhenti sejenak,  jari-jari tangan yang sudah siap menekan huruf-huruf di keyboard berhenti seketika. Tidak ada perintah dari otak apa yang akan dituliskan, jari jemari berhenti di udara, berhenti tanpa sempat menyentuh keyboard.

Esok, lusa, semua kembali ke titik yang sama. Ke ritme yang sama. Berniat menulis dari pagi, lalu terhenti tanpa sempat mneuliskan satu katapun di malam hari.

“Kapan menulis lagi?”, tanyanya semenit yang lalu.

“Nanti. Pasti”, jawabku.

 

Iya, pasti. Nanti.

 

 

Tagged on:                 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *